PYONGYANG
Lapangan Kim Il Sung, dimana ribuan wanita Korea, dalam busana chogori mereka yang berwarna-warni, menari bersama di bawah langit musim semi. Lapangan Kim Il Sung, yang terletak tepat di antara Grand People’s Study House dan Tower of Juche Idea, bagi orang asing terkenal sebagai tempat diadakannya parade militer Republik Rakyat Demokratik Korea.
Tetapi sayang, acar tari massal yang batal digelar tersebut dikarenakan hujan yang sangat lebat. Acara tersebut merupakan bagian dari perayaan Hari Matahari, yang jatuh bertepatan dengan kelahiran Pemimpin Besar Kim Il Sung pada 15 April. Bagi orang Korea, hari raya tersebut sangat istimewa, karena mereka sangat menghormati pemimpin mereka.
Pada musim semi, Mangyongdae dan Kumsusan Memorial Palace menjadi tujuan rakyat Korea. Yang pertama adalah desa kelahiran Presiden Kim Il Sung, sementara yg disebut belakangan adalah tempat persemayamannya.
Mangyongdae terletak di pinggir Pyongyang. Lokasinya di perbukitan. Dari ketinggiannya, kita bisa melihat pemandangan ke segala penjuru. Tak berlebihan bila tempat ini menyandang nama Mangyong atau Sepuluh ribu Pemandangan.
Kediaman masa kecil Pemimpin Besar Kim Il Sung terdiri atas rangkaian bilik sederhana beratap rumbia. Di sana ada peralatan pertanian, peralatan masak, dan tempat belajar. Ada sebuah gentong yang bentuknya tak beraturan. Menurut cerita, dulu nenek Presiden Kim Il Sung sedemikian miskin sehingga hanya mampu membeli gentong yang demikian.
Menarik sekali melihat ribuan orang berbaris tertib menuju lokasi. Ini adalah ritual tahunan jelang perayaan Hari Matahari yang bertepatan denga kelahiran Presiden Kim Il Sung. Pengunjung datang dari segala penjuru Korea, mulai kanak-kanak sampai warga lansia, pria dan wanita, sipil maupun militer. Mereka takzim menunjukkan rasa hormat. Beberapa orang meletakkan karangan bunga. Biasanya, setelah mengunjungi rumah Pemimpin Kim Il Sung, orang-orang naik ke atas bukit.
Di bagian luar ada sumur tua yang masih terawat baik. Beberapa anak menimba air dan kemudian membagikannya kepada teman-temannya. Menurut mereka, kalau minum air tersebut bisa pintar dan panjang umur seperti Pemimpin Besar.
Tradisi lain rakyat Korea adalah berziarah ke Kumsusan Memorial Palace.
Tempat ini semula adalah gedung parlemen. Letaknya di tepian Sungai Hapjang. Pemandangannya asri dengan ladang anggur yang berada tak jauh darinya. Biasanya pengunjung menggunakan bus menuju tempat ini. Namun, mereka bisa juga menggunakan tram khusus berwarna hijau dari pusat kota Pyongyang.
Di Kumsusan jenazah Presiden Kim Il Sung disemayamkan dalam sebuah peti kaca. Seperti halnya di Mangyongdae, yang datang ke tempat inipun berjumlah ribuan. Bahkan tamu-tamu dari luar negeri juga memberikan penghormatan.
Begitu masuk aula, terdengar lagu mars. Ada sebuah patung besar Presiden Kim Il Sung di bagian depan. Di tempat ini pula, pengunjung bisa melihat benda-benda peninggalan Sang Pemimpin Besar, seperti gerbong kereta api, mobil, dan bintang jasa dari berbagai negara.
Tempat ziarah lain yang biasanya didatangi rakyat Korea selama awal musim semi adalah Makam Pejuang Revolusioner Taesongsan (Taesongsan Revolutionary Martyr’s Cemetery). Di sini terbaring sekitar 100 jasad para pejuang Korea saat perang kemerdekaan. Di atas setiap pusara pahlawan dibangun patung dada.
Salah satu yang disenangi rakyat Korea untuk mengenang pahlawan mereka adalah dengan mendirikan monumen. Ke mana pun kita berjalan, pasti bakal menemui monumen. Ada Grand Monument dan Patung Cholima di Bukit Mansu, Arch of Triumph dan Liberation Tower di Bukit Moran, Monument to Party Founding yang melambangkan gabungan kekuatan pekerja, petani, dan intelektual, dan sedikit di luar kota ada Monument to Three Carters for National Reunification.
Yang paling menjulang dari semuanya adalah Tower of Juche Idea yang berdiri tepat di pusat kota. Menara ini memiliki tinggi total 170 meter sehingga terlihat dari segala penjuru di Pyongyang. Tower of Juche Idea menjadi latar belakang yang spektakuler pada malam kembang api.
MAKAM RAJA TONGMYONG
Salah satu situs bersejarah di Korea adalah Makam Raja Tongmyong (lahir 298 SM), pendiri dinasti Koguryo. Kisah raja besar ini bisa disaksikan pengunjung melalui lukisan-lukisan indah di Memorial Service Hall. Di dalam bangunan ini, warna merah dari pilar-pilarnya sangat mendominasi.
Makam, atau tepatnya komplek makam karena ada makam para jendral dan menteri, tersebut berada di luar Kota Pyongyang. Suasananya asri dan sejuk. Barisan pinus yang konon sudah berumur ratusan tahun berada di kanan kiri makam. Seperti banyak bangunan bersejarah lain, makam ini juga sudah direnovasi. Yang istimewa di kompleks makam ini adalah mural di dinding-dinding dalam makamnya. Mural ini sudah dicatat UNESCO sebagai warisan budaya dunia.
Di bagian depan terdapat Kuil Jongrung yang terdiri atas tiga bangsal yang di dalamnya masing-masing patung Budha berlapis emas berukuran besar. Di tengah kuil, sebuah pagoda gagah berdiri.